Pendidikan selalu dilihat sebagai usaha manusia optimistik mendasar yang dikenali dari aspirasiuntuk kemajuan dan kesejahteraan.[2] Pendidikan dipahami oleh banyak orang sebagai usaha untuk melebihi kemampuan orang cacat, mencapai kesetaraan yang lebih tinggi dan memperoleh kekayaan dan status sosial.[3] Pendidikan dianggap sebagai tempat anak-anak bisa berkembang sesuai kebutuhan dan potensi unik mereka.[2] Selain itu juga sebagai salah satu arti terbaik dalam mencapai kesetaraan sosial yang lebih tinggi.[3] Banyak orang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan setiap orang hingga potensi tertinggi mereka dan memberi kesempatan untuk mencapai segalanya dalam kehidupan sesuai kemampuan alami mereka (meritokrasi). Banyak juga orang yang meragukan bahwa sistem pendidikan apapun mencapai tujuan ini dengan sempurna. Pendapat lain mengemukakan pandangan negatif, menyatakan bahwa sistem pendidikan dirancang dengan tujuan mengakibatkan reproduksi ketidaksetaraan sosial.
Sabtu, 28 April 2012
Sosiologi pendidikan
Sesorah Bahasa Jawa Perpisahan
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bapak-bapak, Ibu-ibu ingkang kula urmati, sumawana para putra-putra mudha-mudhi ingkang karoban ing raos bagya. Saderengipun kula matur wonten ing ngarsa panjenengan, langkung rumiyin kula nyuwun agunging sih samodra pangaksama, awit kula kumawantun, ngadeg ing ngarsa panjenengan sami.
Alhamdulillah ing enjing menika kita sedaya saged kempal sesarengan ing kampus SMA N 10 ingkang kita remeni menika. Kita sedaya ngempal ing kampus menika nggadahi maksud utawi tujuan ingkang pokok, yaiku ngundhuraken para siswa kelas XII ing wulan April menika utawi luwih leresipun tanggal 22 dumugi 24 April tahun 2008 sampun ngrampungaken UNAS ingkang dados syarat utama kangge siswa SMA kangge ngelanjutaken ing jenjang luwih dhuwur.
Enjing menika, enjing ingkang ngerenyuhaken sanget kangge kita sedaya para hadirin. Menapa boten, ingkang slamanipun kita utawi teseh dados siswa mriki, kita kerep pethukan, sinau sareng, diskusi sareng, ing wayah sekedhap melih kita badhe pisahan. Nanging, kita kagungan pangajeng-ajeng supados perpisahan menika boten kita banjur “pedhot kekancan”. Supados kita teseh wonten rerembagan ingkang ageng kayata sakderengipun kita pisah.
Para rencang ingkang sedaya maksud lan tujuan dianaaken perpisahan menika botenn namung ngunduraken rencang-rencang kelas XII mawon, ananging luwih saking menika supados rencang-rencang tetep eling lan terus njagi rerencangan, inggih menika ing proses sinau utawi mlebet ing kegiatan sanes-sanesipun.
Para rencang ingkang badhe pisah menika, sejatinipun tugas para rencang menika luwih abot maneh, saya inggil tingkat pendidikan saya inggil injih tugas ingkang kedah dipunrampungaken. Mula kta kedah semangat sinau mempeng supados menapa mawon ongkang para erncang cita-citaaken saged dipuncapai. Boten namung kita mawon ingkang bangga menawi sukses, nanging Bapak lan ibu guru kita injih remen lan bangga.
Para sedherek sedaya, wayah saged damel kita sedaya saged kempal ing acara menika. Nanging wayah menika ugi ingkang misahaken kita sedaya. Kita namung saged mbales nggangge doa mugi-mugi sukses lan slamet lan mugi-mugi amal tuwin kesaenanipun para Bpak lan Ibu guru katampi ing sisihipun Gusti Allah Ingkang Maha Agung.
Kula cekapi semanten rumiyin atur kula, bilih wonten kiranging atur mawantu-wantu kula nyuwun lumunturing samodra pangaksami.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Pusat Massa Dan Titik Be
SratTATIKA adalah ilmu
kesetimbangan yang menyelidiki syarat-syarat gaya yang bekerja pada
sebuah benda/titik materi agar benda/titik materi tersebut setimbang. PUSAT MASSA DAN TITIK BERATPusat massa dan
titik berat suatu benda memiliki pengertian yang sama, yaitu suatu
titik tempat berpusatnya massa/berat dari benda tersebut. Perbedaannya
adalah letak pusatmassa suatu benda tidak dipengaruhi oleh medan gravitasi,
sehingga letaknya tidak selalu berhimpit dengan letak titik beratnya.1. PUSAT MASSAKoordinat pusat massa dari
benda-benda diskrit, dengan massa masing-masing M1,M2,....... , Mi ; yang
terletak pada koordinat (x1,y1), (x2,y2),........, (xi,yi) adalah:
PV = 2/3 Ek PV =
2/3 . 1/2 . m v2 = 1/3 m v2v2 = (3PV)/m = (3 P)/(m/V) = 3P/r v = Ö3P/r =
Ö3.1,2.105/100 = 60 m/det2. Suatu gas tekanannya 15 atm dan volumenya 25
cm3 memenuhi persamaan PV - RT.Bila tekanan gas berubah 1/10 atm tiap menit
secara isotermal. Hitunglah perubahanvolume gas tiap menit?Jawab:Persamaan PV =
RT jelas untuk gas ideal dengan jumlah mol gas n = 1. Jadi kita
ubah persamaan tersebut menjadi:P DV + V DP = R DT (cara differensial
parsial)15 . DV + 25. 1/10 = R . 0 ® AV = -25 /15.10 = -1/6 cm3/menitJadi
perubahan volume gas tiap menit adalah 1/6 cm3,dimana tanda (-) menyatakan
gasmenerima usaha dari luar (dari sekelilingnya).Hukum I TermodinamikaHukum
ini diterapkan pada gas, khususnya gas idealPV = n R TP . DV + -V . DP = n R DTEnergi adalah kekal, jika diperhitungkan
semua bentuk energi yang timbul.Usaha tidak diperoleh jika tidak diberi energi
dari luar.Dalam suatu sistem berlaku persamaan termodinamika I:DQ = DU+ DWDQ =
kalor yang diserapDU = perubanan energi dalamDW = usaha (kerja) luar yang
dilakukanDARI PERSAMAAN TERMODINAMIKA I
DAPAT DIJABARKAN:Pada proses isobarik (tekanan tetap) ® DP = 0;
sehingga,DW = P . DV = P (V2 - V1) ® P. DV
= n .R DTDQ = n . Cp .
DT® maka Cp = 5/2 R (kalor jenis pada tekanan tetap)
DU-= 3/2 n . R . DTPada
proses isokhorik (Volume tetap) ® DV =O; sehingga,DW = 0 ® DQ = DUDQ = n . Cv . DT® maka Cv = 3/2
R (kalor jenis pada volume tetap)AU = 3/2 n . R . DTPada
proses isotermik (temperatur tetap): ® DT = 0 ;sehingga,DU = 0 ® DQ = DW =
nRT ln (V2/V1)Pada proses adiabatik (tidak ada pertukaran kalor antara sistem
dengan sekelilingnya) ®DQ = 0 Berlaku hubungan::PVg = konstan ® g = Cp/Cv
,disebut konstanta LaplaceCara lain untuk menghitung usaha adalah menghitung
luas daerah di bawah garis proses.Gbr. IsobarikGbr.
IsotermikGbr. Adiabatik Usaha pada proses a ® b adalah luas
abb*a*aPerhatikan perbedaan grafik isotermik dan adiabatik ® penurunan
adiabatik lebih curamdan mengikuti persamaan PVg= C.Jadi:1. jika DP > DV,
maka grafik adiabatik.2. jika DP = DV, maka grafik isotermik.Catatan:Jika
sistem menerima panas, maka sistem akan melakukan kerja dan energi akan
naik.Sehingga DQ, DW ® (+).Jika sistem menerima kerja, maka sistem akan
mengeluarkan panas dan energi dalamakan turun. Sehingga DQ, DW ® (-).Untuk gas
monoatomik (He, Ne, dll), energi dalam (U) gas adalahU = Ek = 3/2 nRT ® g
= 1,67
Untuk gas diatomik (H2, N2, dll), energi dalam (U) gas adalahSuhu
rendah(T £ 100K)
�
U = Ek = 3/2 nRT® g = 1,67® Cp-CV=R Suhu sedangU = Ek =5/2 nRT® g = 1,67Suhu
tinggi(T > 5000K)
�
U = Ek = 7/2 nRT® g = 1,67Hukum II TermodinamikaFisika Kelas 1 > Teori Kinetik Zat286<
Sebelum Sesudah >Tidak mungkin membuat suatu mesin yang bekerja secara
terus-menerus serta rnengubahsemua kalor yang diserap menjadi usaha mekanis.T1
> T2, maka usaha mekanis:W = Q1 - Q2h = W/Q1 = 1 - Q2/Q1 = 1 -
T2/T1 T1 = reservoir suhu tinggiT2 = reservoir suhu rendahQ1 = kalor yang
masuk Q2 =kalor yang dilepasW = usaha yang dilakukanh = efesiensi
mesinUntuk mesin pendingin:h = W/Q2 = Q1/Q2 -1 = T1/T2 - 1Koefisien
Kinerja = 1/h
Selasa, 14 Februari 2012
BAHAN LATIHAN KEPEMIMPINAN PENGHELA DAN PENUNTUN
I. HAKIKAT MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Da`wah Amar Ma`ruf Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-Quran dan As-Sunnah. Muhammadiyah berasas Islam.
Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Untuk mencapai tujuannya Muhammadiyah membuat program, kegiatan, dan amal usaha yang meliputi:
1. Menanamkan keyakinan, memperdalam dan memperluas pemahaman, meningkatkan pengamalan, serta menyebarluaskan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan.
2. Memperdalam dan mengembangkan pengkajian ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan untuk mendapatkan kemurnian dan kebenarannya.
3. Meningkatkan semangat ibadah, jihad, zakat, infak, wakaf, shadaqah, hibah, dan amal shalih lainnya.
4. Meningkatkan harkat, martabat, dan kualitas sumberdaya manusia agar berkemampuan tinggi serta berakhlaq mulia.
5. Memajukan dan memperbaharui pendidikan dan kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta meningkatkan penelitian.
6. Memajukan perekonomian dan kewirausahaan ke arah perbaikan hidup yang berkualitas.
7. Meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
8. Memelihara, mengembangkan, dan mendayagunakan sumberdaya alam dan lingkungan untuk kesejahteraan.
9. Mengembangkan komunikasi, ukhuwah, dalam berbagai bidang dan kalangan masyarakat dalam dan luar negeri.
10. Memelihara keutuhan bangsa serta berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
11. Membina dan meningkatkan kualitas dan kuantitas anggota sebagai pelaku gerakan.
12. Mengembangkan sarana, prasarana, dan sumber dana untuk menyukseskan gerakan.
13. Mengupayakan penegakan hukum, keadilan, dan kebenaran, serta meningkatkan pembelaan terhadap masyarakat.
14. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan Muhammadiyah.
***
II. ORGANISASI OTONOM (ORTOM) MUHAMMADIYAH
(SK PP Muhammadiyah No.92/KEP/I.O/B/2007)
Organisasi Otonom adalah satuan organisasi yang berkedudkan di bawah persyarikatan. Ada dua kategori organisasi otonom, yaitu yang umum dan yang khusus:
a. Yang umum adalah ortom yang anggotanya belum seluruhnya anggota Muhammadiyah;
b. Yang khusus adalah ortom yang seluruh anggotanya anggota Muhammadiyah dan diberii wewenang menyelenggarakan amal usaha yang ditetapkan oleh Pimpinan Muhammadiyah dalam koordinasi Unsur Pembantu Pimpinan yang membidanginya sesuai dengan ketentuan yang berlaku tentang amal usaha tersebut.
1) Ortom umum yaitu Hizbul Wathan, Nasyiatul `Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
2) Ortom khusus ialah `Aisyiah.
Pembentukan Orgaisasi Otonom ditetapkan oleh Tanwir atas usul Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan dilaksanakan dengan keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Organisasi Otonom Khusus ditetapkan dengan keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Pembentukan Organisasi Otonom pada tingkat masing-masing , selain PImpinan Pusat, dibentuk oleh Pimpian Organisasi Otonom satu tingkat di atasnya dengan rekomendasi Pimpinan Persyarikatan setingkat.
Fungsi/tugas Ortom adalah:
1. Membentuk dan membina kader Persyarikatan.
2. Membina warga Muhammadiyah dan membimbing kelompok masyarakat tertentu dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
3. Mengembangkan Persyarikatan.
Wewenang Ortom adalah mengatur rumah tangganya sendiri yang dituangkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Tangga masing-masing dan tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Riumah Tangga Muhammadiyah.
***
III. SEJARAH SINGKAT GERAKAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN
1. Didirikan di Yogyakarta tanggal 6 Rabi`ul Awwal 1336 H/18 Desember 1918 M oleh K.H.A.Dahlan.
2. Pada masa penjajahan Jepang organisasi kepanduan (termasuk HW) dilarang.
3. Pada masa Kemerdekaan HW bangkit lagi.
4. Pada tahun 1945 HW bergabung dengan Pandu Rakyat Indonesia (keputusan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Solo 27-29 Desember 1945 di Solo).
5. Pada tanggal 29 Januari tahun 1950 HW berdiri sendiri ( Keputusan Kongres Pandu Rakyat ke-2, 20-22 Januari 1950 di Yogyakarta)
6. Pada tahun 1961 HW begabung dengan Pramuka (Keputusan Presiden RI No.238 th.1961).
7. Pada tahun 1998 Sidang Tanwir Muhammadiyah di Semarang menetapkan Kebangkitan Kembali Kepanduan HW.
8. Pada tangga 10 Sy`aban 1420 H/18 N0vember 1999 M HW dibangkitkan lagi oleh PP Muhammadiyah dngan SK No. 92/SK-PP/VI-B/1.b/1999.
9. Tahun 2000 keluar instruksi PP MUhammadiyah No.VI/B/1.A/58/2000 tentang pembentukan Kepanduan HW kepada PWM, PDM, dan PCM di seluruh Indonesia.
10. Pada tahun 2001 keluar SK PP Muhammadiyah No. 81/KEP/1.0/B/2001 tentang tanfidz Keputusan Rakernas Majlis Dikdasmen 2001, yang isinya di antaranya:
a. Memantapkan keberadaan dan pembinaan Ikatan Remaja Muhammadiyah (sekarang IPM) dan Hizbul Wathan (HW) di lingkungan DIKDASMEN Muhammadiyah.
b. Kepala Sekolah berkewajiban membina/mengembangkjan Hizbul Wathan (HW)/Ikatan Remaja (Pelajar) Muhammadiyah di sekolahnya masing-masing.
c. Mengubah Pramuka menjadi HW di setiap jenjang dan jenis sekolah.
11. Pada tahun 2008 keluar SK Majlis Dikdasmen PP Mhammadiyah No. 128/KEP/1.4?F/2008
Tentang Panduan Pembinaan Organisasi Otonom (ortom) di Sekolah Muhammadiyah, yaitu:
a. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)
b. Kepanduan Hizbul Wathan (HW)
c. Tapak Suci Putera Muhammadiyah
***
IV. KEDUDUKAN DAN FUNGSI GERAKAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN
Gerakan Kepanduan HW adalah sebagai Organisasi Otonom Muhammadiyah, sebagai salah satu wadah perkaderan yang efektif bagi anak, remaja dan pemuda , sehingga kelak sanggup dan mampu menjadi kader bangsa, umat, negara, dan persyarikatan.
Adapun fungsi/tugasnya adalah:
1. Menyelenggarakan pendidikan dan latihan bagi anak, remaja, dan pemuda dengan prinsip dasar dan metode kepanduan yang menarik, menyenangkan, dan menantang. Pendidikan dan laihan terutama dilakukan di alam terbuka.
2. Menyelenggarakan pendidikan dan latihan bagi orang dewasa yang akan berhadapan (dengan peserta didik (pelatih)
3. Menyelenggarakan pendidikan dan latihan bagi orang dewasa yang akan berkiprah di Kwartir dan Qabilah.
4. Menyelenggarakan latihan-latihan khusus/ketrampilan sesuai dengan kebutuhan.
5. Memupuk dan mengembangkan rasa cinta kepada pesyarikatan, tanah air, dan bangsa.
6. Membina dan memelihara ukhuwah insaniah, nasabiah/syihriah, wathaniah, diniah, dan imaniah.
7. Menumbuhkan rasa percaya diri, kreatif, innovative, disiplin, dan bertanggug jawab.
V. CIRI KHAS GERAKAN KEPANDUAN Hizbul Wathan
Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan mempunyai ciiri khas yaitu Prinsip Dasar Kepanduan dan Metode Kepanduan.
1. Prinsip Dasar Kepanduan Hizbul Wathan adalah:
a. Pengamalan aqidah Islamiah;
b. Pembentukan dan pembinaan akhlaq mulia menurut ajaran Islam;
c. Pengamalan kode kehormatan pandu.
2. Metode Kepanduan
a. Pemberdayaan peserta didik lewat sistem beregu;
b. Kegiatan dilakukan di alam terbuka;
c. Pendidikan dengan metode yang menarik,menyenangkan, dan menantang;
d. Penggunaan sistem kenaikan tingkat dan tanda kecakapan;
e. System satuan dan kegiatan terpisah antara pandu putera dan pandu puteri.
***
VI. KODE KEHORMATAN GERAKAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN
Kode kehormatan adalah norma yang mengikat dan membentuk seorang pandu sehingga
menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Kode Kehormatan Pandu HW terdiri dari Janji dan Undang-Undang.
A. Janji Pandu Athfal sebagai berikut:
Mengingat harga perkataan saya, maka saya berjanji dengan sungguh-sungguh:
1. Setia mengerjakan kewajiban saya terhadap Allah;
2. Selalu menurut Undang-Undang Athfal, dan setiap hari berbuat kebajikan.
Pengucapan dimulai dengan membaca Basmalah dan Dua Kalimat Syahadat beserta artinya.
B. Undang-Undang Pandu Athfal
1. Athfal itu selalu setia dan berbakti pada ayah dan bunda;
2. Athfal itu selalu berani dan teguh hati.
C. Janji Pandu Pengenal, Penghela, dan Penuntun
Mengingat harga perkataan saya, maka saya berjanji dengan sungguh-sungguh:
1. Setia mengerjakan kewajiban saya kepada Allah, Undang-Undang dan Tanah Air;
2. Menolong siapa saja semampu saya;
3. Setia menepati Undang-Undang Pandu HW.
Pengucapan dimulai dengan membaca Basmalah dan Dua Kalimat Syahadat dengan artinya.
D. Undang-Undang Pandu HW
Satu, HW selamanya dapat dipercaya;
Dua, HW setia dan teguh hati;
Tiga, HW siap menolong dan wajib berjasa;
Empat, HW cinta perdamaian dan persaudaraan;
Lima, HW sopan santun dan perwira;
Enam, HW menyayangi semua makhluk;
Tujuh, HW siap melaksanakan perintah dengan ikhlas;
Delapan, HW sabar dan bermuka manis;
Sembilan, HW hemat dan cermat;
Sepuluh, HW suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
VII. SYARAT KENAIKAN TINGKAT (SKT) DAN SYARAT KECAKAPAN PANDU (SKP)
Syarat Kenaikan Tingkat (SKT) adalah syarat minimal yang harus ditempuh oleh peserta didik untuk memperoleh tanda kenaikan tingkat (TKT), dan Syarat Kecakapan Pandu (SKP) adalah syarat yang harus ditempuh untuk memperoleh Tanda Kecakapan Pandu (TKP) sesudah peserta didik itu memperoleh Tanda Kenaikan Tingkat.
Untuk memperoleh tanda-tanda tersebut peserta didik harus menempuh ujian kenaikan dan ujian kecakapan.
Tingkatan (kelas) dalam Pengenal ada dua, yaitu Taruna Melati I dan Taruna Melati II. Adapun kecakapan pandu tidak terbatas.
VIII. JENIS-JENIS PERTEMUAN &UPACARA DALAM GERAKAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN
Pertemuan& upacara adalah serangkaian perbuatan yang ditata dengan baik, dilaksanakan dengan tertib dan khidmat, sehingga terbentuk kebiasaan sebagai langkah terwujudnya budi pekerti yang baik.
Setiap satuan mempunyai jenis-jenis pertemuan &upacara sendiri, baik bentuk, sifat, dan cara-caranya. Semua dilakukan secara sederhana, praktis, teratur, khidmat.
Adapun Jenis pertmuan& upacara dalam Kerabat Penghela adalah sebagai berikut:
• Pertemuan Berkala
1. Di Kerabat Penghela.
2. Di Bina Karya Mandiri.
3. Di Qabilah.
4. Di Dewan Syugli.
5. Di Kwarti (Cabang, Daerah, Wilayah, dan Pusat.
• Setiap pertemuan ada upacaranya. Jenisnya meliputi:
1. Upacara penerimaan tamu.
2. Upacara penerimaan calon anggota.
3. Upacara kenaikan tingkat.
4. Upacara penerimaan tanda kecakapan.
5. Upacara pembukaan dan penutupan latihan.
6. Upacara penerimaan tanda penghargaan
7. Upacara pindah satuan.
*****
IX. IBADAH PRAKTIS (THAHARAH DAN SHALAT) > DIPRAKTIKKAN
X. ADAB BERGAUL
Kehidupan bermasyarakat memerlukan adab dalam pergaulan/berkomunikasi dengan sesama anggotanya. Hal ini sangat perlu untuk menjaga kehormatan setiap orang atau golongan.
Setiap bangsa akan tetap jaya dan terhormat apabila bangsa itu memiliki akhlaq mulia (beradab). Bila akhlaqnya hilang, maka hancurlah bangsa itu.
• Adab waktu berbicara
1. Hadapkan wajah kepada yang diajak bicara.
2. Dengarkan perkataan orang yang mengajak bicara.
3. Cukupkan suara sesuai dengan kebutuhan pendengar.
4. Ucapkan kata-kata yang mudah dimengerti, baik, dan benar.
5. Pikirkan dulu apa yang akan dikatakan.
6. Pembicaraan ringkas, tepat sasaran.
7. Jangan mengejek, menghasut, memperolok-olok, ghibah, dll.
8. Jangan memasukkan tangan ke dalam saku.
9. Jangan menjulurkan kaki ke arah yang diajak bicara.
10. Jangan terus-menerus melihat jam tatkala berbicara.
11. Jangan mengatakan tidak, tetapi katakanlah baik, tetapi….
12. Jangan meninggalkan pembicara, sebelum pembicaraannya selesai, kecuali setelah mendapagt izin.
XI. BARIS-BERBARIS (PRAKTIK)
Hubungan/kaitan baris-berbaris dengan pelaksanaan shalat dan keperluan hidup lainnya, seperti : kesehatan, ketepan waktu, ketrampilan, kerapihan dll.(Praktik)
****
XII. KEPEMIMPINAN ORGANISASI
Organisasi adalah sekelompok manusia yang mempunya itujuan yang sama, paham yang sama, dan ada kerja sama.
Untuk mencapai tujuan kenalilah sekelompok orang dalam organisasi itu. Seorang penghela wajib menjadikan tujuan Kepanduan Hizbul Wathan menjadi tujuan pribadinya, supaya tahu kemana bergerak, dan untuk apa bergeraknya itu. Karena itu ia harus tahu struktur organisasi
Struktur organisasi dapat dibagi menurut fungsi-fungsinya/tugas-tugasnya dan menurut resortnya (mengingat tersebarnyta anggota)
Untuk mengetahui tujuan dan tugas setiap anggota wajib membaca dan memahami Angaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasinya.
Pemimpin organisasi (HW) wajib:
1. Ittiba (mengikuti) kepemimpinan Rasulullkah saw.
2. Menggali apa yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
3. Jujur.
4. B ersungguh-sungguh/semangat.
5. Sehat dan kuat.
6. Ramah tamah.
7. Integriti.
8. Kemahiran dalam pekerjaan.
9. Tegas dalam memutuskan.
10. Cerdas.
11. Cakap menyampaikan informasi (mengajar)
Tipe-tipe Pemimpin
1. Otokratis
2. Militeristis
3. Paternalistis
4. Kharismatis
5. demokratis
***
XIII. MANAJEMEN ORGANISASI
Tujuan yang maksimal, harus dicapai secara efisien (irit) . Untuk itu diperlukan pola kerja yang meliputi lima hal, yaitu:
1. Perencanaan (planning)
2. Pengorganisasian (organizing)
3. Pembagian tugas (directing)
4. Pengkoordinasian (coordinating)
5. Pengawsan (controlling)
Keterangan:
1. Perencanaan
Perencanaan ialah apa yang harus saya kerjakan dan bagaimana ( what shall be done and how). Gunanya ialah supaya tujuan berhasil dengan baik, dan mencegah pemborosan.
Untuk membuat rencana harus ada lima factor, yaitu: tenaga, benda/uang, pikiran, ruang, dan waktu.
Salah siatu cara membuat rencana adalah dengan mengemukakan pertanyaan sbb.:
a. Apa (what)
b. Mengapa (why)
c. Kapan (when)
d. Di mana (where)
e. Siapa (who)
f. Bagimana (how)
Setelah itu kemudian adakan kegiatan sebagai berikut:
a. Penelitian
b. Analisis
c. Ramalan
d. Ambil keputusan
2. Pengorganisasian ( susunan organisasi : ketua, sekretaris, dsb.)
3. Pembagian tugas
Jelaskan tugas masing-masing:
a. Apa tugasnya
b. Kepada siapa berhubungan
c. Kepada siapa bertanggung jawab . Bawahan harus tahu siapa atasannya . Kalau atasan berhalangan harus mewakilkan (delegation of authority)
d. Jangan sampai terjadi perintah dari dua orang. Ingat asas “unity of command”.
4. Koordinasi
Koordinasi berguna untuk mengompakkan pekerjaan, caranya:
a. Rapat-rapat
b. Ada buku pedoman organisasi
c. Adanya surat edaran
d. Pembentkan panitya
e. Ada wawancara (interview) kapada bawahan
5. Pengawasan
a. Penelitian(pencacahan) apakah rencana telah dilaksanakan atau belum;
b. Kalau belum, apakah sudah ada tindakan
Untuk mencegah adanya kekeliruan dapat dilakukan cara-cara .sbb.:
1) Pengawasan sebelum terjadi keslahan ( preventif). Ini harus lebih banyak dilakukan.
2) Masalah sudah terjadi tinggal mengontrol /verifikasi(refresif).
Pngawasan dapat dilakukan dari luar (extern), dan dari dalam (intern)
***
IV. MENULIS EFEKTIF
Menulis efektif (tepat guna) diperlukan di antaranya waktu membuat laporan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
1. Tujuan penulisan harus jelas.
2. Tulisan harus stingkat.
3. Tulisan harus teliti.
4. Tulisan harus tertib.
5. Tulisan harus obyektif.
Langkah-langkah yang harus ditempuh:
1. Ketahui persoalannya.
2. Kumpulkan fakta dan keterangannya.
3. Kumpulkan cara pemecahan yang akan digunakan.
4. Pilih cara pemecahan yang terbaik.
5. Bentuk struktur (out line) tulisan:
a. Pendahuluan
b. Inti/pokok
c. Kesimpulan
d. Lain-lain
***
XV.BERBICARA DI DEPAN UMUM
Seorang pemimpin selain pandai menulis juga harus cakap brbicara di depan umum atau pidato(penyajian lisan). Dalam hal ini diperlukan hal-hal sebagai berikut:
1. Penguasaan bahasa yang benar dan baik;
2. Keberanian;
3. Ketenangan;
4. Sanggup bereaksi cepat dan tepat;
5. Sanggup menyampaikan gagasan secara tepat dan teratur;
6. Bersikap dan bergerak tidak kaku.
7. Dapat memilih beberapa cara:
a. Serta merta (impromptu), berdasarkan kebutuhan sesaat.
b. Menghafal. Materi ditulis (teks), kemudian dihafal.
c. Tersedia naskah, kemudian dibaca.
d. Tanpa pesiapan naskah (ekstemporan). Dibuat catatan-catatan penting, kemudian diurutkan.
8. Persiapan penyajian:
a. Meneliti masalah: menentukan maksud, menganalisis pendengan dan situasi, memilih dan menyempitkan topik.
b. Menyusun uraian: mengumpulkan bahan, membuat kerangka uraian, menguraikan secara rinci (mendetail).
c. Mengadakan latihan.
XVI. STRUKTUR ORGANIASI GERKAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN
Struktur organisasi Gerakan Kepanduan Hizbull Wathan dibuat secara vearartical dan horizontal.
1. Secara vertical sebagai berikut:
a. Di tingkat pusat disebut Kwartir Pusat
b. Di tingkat wilayah (propinsi) disebut Kwartir Wilayah
c. Di tingkat daerah(kabupaten/kota) disebut Kwartir Daerah
d. Di tingkat cabang (kecamatan) disebut Kwartir Cabang
e. Di Tingkat ranting (kelurahan, sekolah, asarama,pemukiman) disebut Qabilah
2. Secara horizontal terdiri dari departemen, bidang, seksi, bagian.
***
CIRI KHAS GERAKAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN
PRINSIP DASAR DAN METODE KEPANDUAN DITERAPKAN DALAM SETIAP KEGIATAN. PELAKSANAANNYA DISESUAIKAN DENGAN:
KEPENTINGAN, KEBUTUHAN, SITUASI, KONDISI MASYARAKAT, SERTA KEPENTINGAN PERSYARIKATAN MUHAMADIYAH
(AD BAB III Pasal 8 AYAT 1)
PRINSIP DASAR GRAKAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN
1. PENGAMALAM AQIDAH ISLAMIAH
2. PEMBENTUKAN DAN PEMBINAAN AKHLAQ MULIA MENURUT AJARAN ISLAM
3. PENGAMALAN KODED KEHORMATAN PANDU
AD BAB III Pasal 8 Ayat2)
METODE PENDIDIKAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN
1. PEMBERDAYAAN ANAK(PESERTA) DIDIK LEWAT SISTEM BEREGU
2. KEGIATAN DILAKUKAN DI ALAM TERBUKA
3. PENDIDIKAN DENGAN METODE YANG MENARIK, MENYENANGKAN, DAN MENANTANG
4. PENGGUNAAN SISTEM KENAIKAN TINGKAT DAN TANDA KECAKAPAN
5. SISTEM KESATUAN DAN KEGIATAN TERPISAH ANTARA PANDU PUTRA DAN PANDU PUTRI
AD BAB III Pasal 8 Ayat 3)
CERIA PANDU ATHFAL
I. PENDAHULUAN
1. Umum
a. Untuk mencapai tujuan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan diperlukan usaha dan kegiatan untuk
membangkitkan semangat dan kemampuan peserta didik Pandu Athfal.
b. Dalam upaya membangkitkan semangat dan kemampuan Pandu Athfal diperlukan:
1) Penanaman aqidah tauhid, ibadah, dan taat kepada Allah SWT.
2) Kesadaran bahwa berbuat kebajikan itu memerlukan pembiasaan, dan yang tidak baik itu jangan dicoba.
3) Kesadaran bahwa hidup di dunia ini harus bersaudara/ukhuwah:
a) sesama manusia;
b) sekeluarga;
c) sesuku, sebangsa, dan setanah air;
d) sesama penganut agama;
e) seiman dalam satu agama.
c. Dalam upaya mewujudkan hamba Allah yang sadar akan kedudukan dan fungsinya, maka pembi-
naannya harus dilakukan sejak dini.
d. Allah menyatakan bahwa sertiap diri dan keluarga harus dijaga dari ancaman neraka (Q.S. 66:6).
2. Maksud dan Tujuan
a. Pedoman ini dimaksudkan untuk dijadikan pegangan bagi Kwartir dan Satuan Gerakan Kepanduan
Hizbul WAthan dalam menyelenggarakan Ceria Pandu Athfal.
b. Tujuannya untuk melancarkan setiap usaha dalam mencapai tujuan Gerakan Kepanduan Hizbul Wa
than.
3. Cakupan
Pedoman penyelengaraan ini mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Pengertian dan Faedah Ceria Pandu Athfal.
b. Manhaj kegiatan Ceria Pandu Athfal.
c. Perencanaan, pengorganisasian, dan tata laksana.
d. Dukungan adminintrasi.
e. Lain-lain.
4. Dasar
a. AD dan ART Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.
b. Keputusan Muktamar I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.
II. PENGERTIAN DAN FAEDAH CERIA PANDU ATHFAL
1. Pengertian
a. Ceria Pandu Athfal adalah pertemuan para Pandu Athfal untuk melaksanakan kegiatan bersama antar Rumpun dalam beberapa Qabilah.
b. Ceria Pandu Athfal adalah kegiatan Pandu Athfal yang bentuk kegiatannya dipilih sesuai dengan:
1) perkembangan, keperluan, dan keadaan peserta didik;
2) perkembangan, keperluan, keadaan persyarikatan, dan masyarakat.
2. Faedah
Ceria Pandu Athfal adalah:
a. Memberikan aneka ragam/variasi latihan berkala dalam Rumpun Athfal;
b. Membina ukhuwah yang baik antara pandu Hizbul Wathan dengan persyarikatan , dan masyarakat;
c. Membiasakan tukar-menukar pengetahuan, pengalaman, kecakapan, dan ketrampilan Pandu Athfal;
d. Bahan evaluasi bagi para Pemimpin/Pelatih Athfal.
3. Spesifik
a. Penyelengaran terpisah antara putra dan putrid;
b. Dalam hal tertentu penyelengaraan dapat bersama-sama, tetapi kekhasan tetap terjaga.
III. POLA KEGIATAN CERIA PANDU ATHFAL
1. Penyelenggaraan
Ceria Pandu Athfal dapat diselenggararakan di tingkat:
a. Ranting Muhammadiyah yang diikuti oleh Rumpun Athfal seranting;
b. Cabang Muhammadiyah yang diikuti oleh Rumpun Athfal secabang;
c. Daerah Muhammadiyah yang diikuti oleh Rumpun Athfal sedaerah.
d. Ceria Pandu Athfal diikkuti oleh semua Pandu Ahfal dari semua rumpun.
2. Landasan dan Bentuk Kegiatan
a. Landasan kegiatan adalah semnga dan jiwa pandu sesuai dengan kode kehormatan Pandu Hizbul Wathan.
b. Ceria Pandu Athfal adalah pertemuan khusus Pandu Athfal.
3. Bentuk Kegiatan
Ceria Pandu Athfal dapat berbentuk:
a. perkemahan siang;
b. permainan bersama;
c. bazaar (pasar Athfal);
d. rekreasi;
e. ketangkasan dan ketrampilan;
f. karnaval;
g. pameran;
h. pentas seni;
i. ibadah praktis;
j. dan lain-lain.
4. Sifat Kegiatan
a. dinamis;
b. kreatif;
c. rekreatif;
d. riang gembira;
e. nomatif;
f. fastabiqul khairat; (tidak mencari kejuaraan);
g. dakwah isllamiah.
5. Arah Kegiatan
a. Kegiatan diarahkan kepada pembentukan insan kamil, dengan menggunakan rambu-rambu SKT dan SKP.
b. Moto kegiatan, belajar, berlatih, bekerja, ibadah, dan ihsan kepada sesama.
c. Prinsip dasar, metode pendidikan, dank kode kehormatan pandu digunakan sebagai standar evaluasi dan penilaian.
d. Kegiatan yang menyenangkan direka dalam bentuk cerita, nyanyian, dan permainan.
e. Kegiatan sederhana, mudah difahami, mudah dilaksanakan, dan berkesan.
IV. PERENCANAAN, PENGORGANISAIAN, DAN TATALAKSANA
1. Perencanaan
a. Pembentukan Panitia Penyelenggara, yang bertugas memikirkan, merencanakan, menyiapkan, melaksanakan, dan menyelesaikan segala sesuatu yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
b. Perencanaan melliput:
1) bentuk kegiatan;
2) maksud dan tujuan;
3) waktu dan tempat;
4) komposisi panitia;
5) tahap-tahap pelaksanaan;
6) rincian acara;
7) ketentuan peserta;
8) perbekalan dan perlengkapan;
9) biaya;
10) pengawasan, penelitian, evaluasi, dan penilaian;
11) lain-lain.
2. Pengorganisasian
a. Ada struktur dan pembagian tugas yang jelas.
b. Setiap orang bekerja sesuai dengan kedudukan dan fungsinya tetapi bersifat kolegial.
c. Panitia terdiri dari anggota kepanduan HW dan dari luar.
d. Anggota Penghela dan Penuntun diutamakan dalam membantu kegiatan di lapangan.
e. Pelaksanaan:
1) di tingkat cabang 6(enam) bulan sekali;
2) di tingkat daerah 1 (satu) tahun sekali;
3) antar qabilah berlainan cabang tetapi berdekatan diatur oleh yang bersangkutan.
3. Pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab
a. Ceria Pandu Athfal adalah tugas, wewenang, dan tanggung jawab:
1) Pemimpin Qabilah untuk tingkat Qabilah;
2) Pemimpin Kwarcab untuk tingkat Kwarcab;
3) Pemimpin Kwarda untuk tingkat Kwarda.
b. Petunjuk, dorongan, bimbingan, saran dilakukan oleh Kwarpus dan Kwarwil.
4. Pengawasan, penelitian, dan penilaian
a. Pengawasan, penelitian, dan penilaian dilakukan oleh tim yang dibentuk oleh Qabilah, Kwarcab, atau Kwarda.
b. Data diambil dari panitia penyelenggara.
5. Laporan
a. Laporan dibuat tertulis setelah kegiatan selesai, yang memuat:
1) dasar pemikiran;
2) perencanaan;
3) persiapan;
4) pelaksanaan;
5) penyelesaian;
6) kepanitiaan;
7) peserta;
8) kendala dan solusinya;
9) hasil kegiatan;
10) hasil penilaian;
11) pertanggungjawaban keuangan;
12) kesimpulan dan saran.
b. Laporan disampaikan kepada:
1) Kwartir Cabang/ Darah;
2) Majlis Petimbangan, Pemerintah, Masyarakat,Perushaan, dll.
3) Kwarwil dan Kwarpus sebagai bahan untuk disebarluaskan.
V. DUKUNGAN ADMINISTRASI
1. Logistik terdiri dari:
a. keperluan pribadi;
b. keperluan kuntum;
c. keperluan rumpun;
d. keperluan tempat;
e. keperluan acara kegiatan;
f. keperluan makan;
g. keperluan transfortasi;
h. keperluasNkesehatan;
i. keperluan keamanan.
2. Pembiayaan
a. Pembiayaan dilakukan secara swadaya dan gotong-royong (takafulul ijtima) dari:
1) peserta/orang tua peserta;
2) Qabilah dan Majlis Petimbangannya;
3) usaha panitia dari luar.
3. Pemasukan dan pengeluaran uang dicatat dengan baik untuk memudahkan pembuatan
laporan pertanggungjawaban.
VI. PENUTUP
Hal-hal yang belum diatur dalam pedoman ini , akan diatur lebih lanjut oleh Kwartir Pusat.
Langganan:
Postingan (Atom)









